YOGYAKARTA, POSWARGA.COM – Pernahkah kita bertanya, ke mana perginya para seniman setelah nama mereka melambung di galeri-galeri mentereng ibu kota atau mancanegara? Bagi Hendra Priyadhani, jawabannya bukan pada sorot lampu panggung yang benderang, melainkan pada aroma tanah dan kehangatan sapaan warga di sudut Dusun Kembaran, Bantul.
Lamat-lamat suara petikan gitar eksperimental Ikbal Lubys bakal memecah keheningan di Gedung Pertemuan Dusun Kembaran RT 01, Tamantirto. Di sana, seni rupa tidak sedang bertamu dengan wajah angkuh. Ia datang untuk pulang.
Pameran bertajuk "Pecah Sunyi #1" yang digelar pada 26-28 Juni 2026 ini menjadi sebuah manifesto penting bagi Hendra Priyadhani dan kawan-kawannya: bahwa kesenian sejatinya bermula dari denyut nadi desa.
Hendra mengenang medio 2003, saat ia dan kawan seangkatannya nekat berpameran di Balai Desa Godean. Kala itu, bukan kurator ternama yang meresmikan, melainkan Pak RT dengan iringan obor minyak tanah yang menyala di sepanjang jalan.
Doa-doa tulus dari warga desa itulah yang diyakini Hendra menjadi pupuk bagi karier keseniannya hingga hari ini. Baginya, seniman adalah pohon yang dahan dan rantingnya boleh menyebar ke mana saja, namun akarnya harus tetap menghujam ke bumi tempat ia tumbuh.
Langkah ini bukan kali pertama. Dua tahun silam di Ponorogo, semangat serupa bertajuk "Tetenger" berhasil menyulap sebuah gang desa menjadi ruang visual yang hidup. Kini, di Tamantirto, narasi itu dilanjutkan.
Tak ada sekat antara seniman profesional dan warga lokal. Santri TPA Masjid Nurul Iman akan berbaur dalam lokakarya menggambar bersama Didit Pratomo, sementara pemuda setempat mengelola lapak sablonase kaos sebagai bentuk kemandirian ekonomi kreatif.
Kurator Deni Rahman membawa barisan seniman seperti Giring P, Ismanto Wahyudi, hingga Prihatmoko Moki untuk ikut serta dalam gerakan ini. Mereka tidak hanya memajang karya, tetapi membuka ruang komunikasi yang selama ini seringkali terputus oleh tembok-tembok galeri yang eksklusif.
Di tangan mereka, seni rupa menjadi bahasa yang cair untuk berbagi potensi dan merajut jejaring dengan generasi masa depan.
Acara yang akan dibuka oleh Dukuh Kembaran, Bapak Darsono, ini menjadi bukti bahwa kontribusi nyata seniman tidak melulu soal angka penjualan di balai lelang. Ia adalah tentang bagaimana seni mampu memberikan warna pada dinding-dinding desa melalui mural Kidung Grafiti, dan bagaimana bunyi gitar akustik Ismanto Wahyudi mampu menyatukan warga dalam sebuah perayaan yang manusiawi.
Pecah Sunyi adalah sebuah pengingat: bahwa setelah berkelana jauh, pulang adalah jalan untuk menemukan diri kembali. (Sulex)